Solid Gold Berjangka – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat dan mendekati level tertinggi enam bulan karena kekhawatiran terhadap kemungkinan dimulainya kembali operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Brent diperdagangkan di sekitar US$112,06 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$104,42 per barel pada Jumat (30/10).
Brent bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak akhir April. Kedua acuan minyak utama tersebut juga berada di jalur kenaikan bulanan keempat berturut-turut dengan penguatan lebih dari 10%, mencerminkan tingginya premi risiko geopolitik di pasar energi.
Kekhawatiran meningkat setelah laporan menyebut Kepala Komando Sentral AS, Laksamana Brad Cooper, memberikan pengarahan kepada Presiden Donald Trump mengenai opsi militer terhadap Iran. Pertemuan di Gedung Putih tersebut juga dihadiri Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan sejumlah pejabat senior, dengan pembahasan mencakup blokade AS serta kemungkinan dimulainya kembali operasi tempur berskala besar.
Harapan terhadap penyelesaian diplomatik masih ada, tetapi prospeknya semakin tidak pasti. Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan telah menghubungi pejabat keamanan Iran Mohsen Rezaei untuk menghidupkan kembali negosiasi, sementara mediator regional terus berupaya menyusun kerangka penyelesaian konflik. Namun, Iran disebut menolak salah satu proposal yang diajukan sehingga kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat masih terbatas.
Pasar juga tetap sensitif terhadap perkembangan di Selat Hormuz dan ancaman terhadap infrastruktur energi kawasan. Pertahanan udara Arab Saudi dilaporkan mencegat rudal balistik yang diluncurkan kelompok Houthi menuju Provinsi Timur, setelah sebelumnya kelompok tersebut mengklaim menyerang fasilitas pengolahan minyak Ras Tanura. Ancaman tersebut terus menjaga kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan.
Dari sisi fundamental, penurunan persediaan minyak mentah AS turut menopang harga. Stok komersial turun 1,9 juta barel menjadi 410,6 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan tipis. Selama risiko konflik AS–Iran dan ancaman terhadap jalur distribusi energi tetap tinggi, harga Brent dan WTI berpotensi mempertahankan premi geopolitik dalam jangka pendek. (srh)