Solid Gold Berjangka - Indeks Dolar AS (DXY) melanjutkan pelemahan untuk hari kedua berturut-turut dan menyentuh level terendah bulanan di sekitar 101,20 pada perdagangan Asia, Kamis (5/11). Tekanan terhadap dolar meningkat setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) mengubah peta politik di Washington, sementara penurunan harga minyak dunia turut membebani pergerakan mata uang AS.
Partai Demokrat berhasil menguasai kedua kamar Kongres, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi kebuntuan politik antara Kongres dan pemerintahan Presiden Donald Trump. Kondisi tersebut dinilai dapat membatasi ruang pemerintah dalam menjalankan sejumlah agenda fiskal, termasuk kebijakan belanja maupun program ekonomi lainnya. Sentimen tersebut mendorong tekanan jual terhadap dolar AS.
Tekanan terhadap dolar juga datang dari pasar energi. Ekspektasi bahwa konflik di Timur Tengah dapat segera mereda memicu penurunan tajam harga minyak dunia. Turunnya harga minyak mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dari sektor energi dan menjadi salah satu faktor yang menekan imbal hasil serta daya tarik dolar AS di pasar global.
Meski demikian, peluang pemulihan dolar masih terbuka setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan ketahanan. Laporan ADP mencatat sektor swasta menambah 86.000 pekerjaan pada Oktober, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 69.000. Sementara itu, ISM Services PMI turun menjadi 54,5 dari 54,9, sedikit di bawah perkiraan 54,8, tetapi masih berada di atas level 50 yang menandakan sektor jasa AS tetap berada dalam zona ekspansi.
Data ekonomi yang relatif solid kembali memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperhitungkan peluang sekitar 82% untuk kenaikan suku bunga pada Desember. Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data Initial Jobless Claims AS yang dirilis Kamis serta laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Kedua data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai kekuatan pasar tenaga kerja sekaligus arah kebijakan moneter The Fed berikutnya. (srh)