Dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada perdagangan Selasa (3/11/2026), didukung data ketenagakerjaan yang lebih baik dari perkiraan di tengah ketidakpastian pemilu paruh waktu AS dan perkembangan diplomasi Washington-Teheran.
Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,1% menjadi 101,81 setelah sempat bergerak fluktuatif mengikuti perubahan harga minyak dunia. Investor mencermati kemungkinan perubahan komposisi Kongres AS yang dapat memengaruhi arah kebijakan ekonomi, sentimen pasar, serta prospek investasi kecerdasan buatan (AI).
Penguatan dolar semakin terlihat setelah laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan AS meningkat 333.000 menjadi 7,523 juta, jauh melampaui perkiraan ekonom sebesar 7,1 juta. Data tersebut memperlihatkan permintaan tenaga kerja masih relatif kuat dan berpotensi mempertahankan ekspektasi kebijakan suku bunga ketat Federal Reserve. Pelaku pasar kini menantikan laporan ketenagakerjaan berikutnya, termasuk Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat, untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai kondisi ekonomi AS.
Sementara itu, dolar turut menguat terhadap yuan China dan dolar Australia setelah keputusan bank sentral masing-masing negara. Yuan melemah setelah bank sentral China menaikkan kewajiban cadangan valuta asing lembaga keuangan guna membatasi penguatan mata uang domestik. Dolar AS naik sekitar 0,4% terhadap yuan menjadi 6,6765, sedangkan dolar Australia turun 0,4% ke US$0,6971 meskipun Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,85%. Pergerakan tersebut mencerminkan respons pasar yang beragam terhadap kebijakan moneter dan meningkatnya kehati-hatian investor menjelang rilis data ekonomi penting.
Sumber: Newsmaker.id