Harga emas bergerak fluktuatif pada Selasa (20/10) karena investor masih mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve serta perkembangan negosiasi untuk mengakhiri perang AS-Iran. Emas sempat menguat 0,4% sebelum berbalik turun 0,7%, menunjukkan pasar masih mencari katalis baru di tengah ketidakpastian geopolitik.
Negosiasi antara AS dan Iran masih berlangsung, tetapi laporan bahwa kesepakatan sudah dekat dibantah oleh diplomat yang terlibat dalam pembicaraan. Sebelumnya, kabar mengenai potensi terobosan dalam waktu dekat sempat menekan harga minyak, dolar AS, dan yield obligasi. Namun, setelah kabar tersebut dibantah, harga energi kembali bertahan tinggi.
Harga energi yang masih tinggi menjadi perhatian karena berpotensi menjaga tekanan inflasi. Kondisi tersebut dapat membuat The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat atau kembali menaikkan suku bunga, yang menjadi tantangan bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.
Emas sendiri masih bergerak dalam rentang terbatas sepanjang Oktober. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 27–28 Oktober hanya sekitar 15%, setelah komentar Ketua The Fed Kevin Warsh pekan lalu memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral kemungkinan memilih menunggu.
Meski demikian, inflasi AS masih berada di atas target 2%, sehingga investor tetap mencermati apakah The Fed hanya menunda kenaikan pada Oktober sebelum kembali memperketat kebijakan pada akhir tahun. Spot gold terakhir berada di US$4.123,97 per troy ounce, sementara perak naik 1,2% ke US$57,77.
Analisis Newsmaker: Emas masih berada dalam fase wait and see, dengan arah pergerakan sangat bergantung pada dua faktor utama: kebijakan The Fed dan perkembangan konflik AS-Iran. Jika tekanan inflasi dan harga energi bertahan tinggi, ruang kenaikan emas dapat terbatas. Namun, perkembangan geopolitik yang kembali memanas atau penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga dapat menjadi katalis bagi emas untuk kembali menguat.