Solid Gold Berjangka – Harga emas dunia kembali melemah untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan Asia Jumat (30/10) dan turun menembus level psikologis US$4.000 per troy ounce. Tekanan terhadap XAU/USD meningkat setelah data ekonomi Amerika Serikat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve berpeluang kembali menaikkan suku bunga pada Desember.
Produk domestik bruto (GDP) AS kuartal III tumbuh 3,4% secara tahunan, meningkat dari 2,2% pada kuartal sebelumnya dan melampaui perkiraan pasar sebesar 3,2%. Sementara itu, indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,5% secara bulanan dan 3,6% secara tahunan pada September. Core PCE juga meningkat 0,3% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan, menegaskan bahwa tekanan inflasi masih tinggi.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan inflasi yang membandel memperkuat peluang pengetatan lanjutan The Fed. Kondisi tersebut menjadi tekanan bagi emas sebagai aset tanpa imbal hasil, meskipun yield obligasi pemerintah AS justru menurun setelah investor memburu aset aman di tengah kekhawatiran terhadap tingginya belanja perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan.
Di sisi geopolitik, meningkatnya harapan terhadap solusi diplomatik konflik Timur Tengah turut menekan permintaan safe haven terhadap emas. Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan menghubungi pejabat keamanan Iran Mohsen Rezaei, sementara Qatar mengajukan rancangan kesepakatan baru untuk membuka kembali jalur negosiasi. Namun, ketegangan antara kelompok Houthi dan Arab Saudi serta ancaman serangan baru AS dan Israel masih menjaga risiko geopolitik tetap tinggi.
Dalam jangka pendek, tekanan terhadap emas masih cenderung dominan selama ekspektasi kenaikan suku bunga Desember tetap kuat. Setiap pemulihan berpotensi menghadapi aksi jual apabila dolar kembali menguat, sementara XAU/USD saat ini berada di jalur penurunan sekitar 3,5% sepanjang Oktober. (srh)