Harga emas dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Selasa (27/10/2026), menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Emas spot (XAU/USD) turun tipis 0,2% menjadi US$4.007,66 per troy ounce pada pukul 07.47 waktu Singapura, setelah menguat 0,5% pada sesi sebelumnya. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati dalam mengambil posisi, terutama setelah emas mengalami tekanan jual tajam hingga menyentuh level terendah sejak pertengahan Juli pada Jumat lalu.
Tekanan terhadap emas masih dipengaruhi kekhawatiran inflasi akibat tingginya harga energi global. Meskipun minyak dunia melemah untuk hari kedua seiring munculnya harapan baru dari upaya diplomasi Amerika Serikat dan Iran, risiko kenaikan harga energi belum sepenuhnya mereda. Di sisi lain, emas juga terdampak gelombang aksi jual saham teknologi pada pekan lalu. Sejumlah investor diduga melepas kepemilikan emas untuk menutup kerugian pada aset lain, sehingga logam mulia tersebut ikut tertekan meskipun dikenal sebagai instrumen investasi yang relatif aman.
Dari sisi kebijakan moneter, perhatian pasar tertuju pada pertemuan The Fed tanggal 27–28 Oktober. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober hanya sekitar 10%, sehingga keputusan mempertahankan bunga menjadi skenario utama. Namun, tingginya harga energi masih menjaga ekspektasi bahwa The Fed dapat kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Kondisi ini membatasi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga, sementara aset berbunga menjadi relatif lebih menarik ketika suku bunga tetap tinggi.
Dari sisi teknikal, emas berada pada fase penting setelah mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered, Suki Cooper, menilai emas perlu membentuk dasar harga yang kuat untuk menghentikan tekanan jual. Menurutnya, kawasan US$3.886 menjadi area support penting yang perlu dipertahankan. Jika harga gagal menemukan dukungan teknikal, tekanan jual berpotensi kembali meningkat. Sebaliknya, kemampuan emas bertahan di sekitar US$4.000 dapat menjadi langkah awal menuju pemulihan, meskipun belum cukup untuk memastikan pembalikan tren.
Ke depan, arah harga emas akan sangat bergantung pada keputusan suku bunga The Fed dan pernyataan Ketua The Fed mengenai prospek kebijakan moneter hingga akhir tahun. Jika The Fed memberikan sinyal lebih dovish dibandingkan ekspektasi pasar, emas berpeluang memperoleh dukungan dari pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi. Sebaliknya, sikap yang tetap hawkish dapat kembali menekan harga. Kini pertanyaan terbesar investor adalah apakah US$4.000 mampu menjadi pijakan baru bagi emas atau justru menjadi batas sebelum penurunan berikutnya.