Mata uang euro bergerak melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (22/10/2026), di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Pasangan EUR/USD diperdagangkan di sekitar level 1,1229, turun sekitar 0,03% dibandingkan sesi sebelumnya. Pergerakan yang relatif terbatas tersebut mencerminkan sikap hati-hati investor menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa (ECB) pada pekan depan, sementara risiko inflasi akibat tingginya harga energi masih membayangi prospek pertumbuhan ekonomi kawasan euro.
Tekanan terhadap mata uang tunggal Eropa turut dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis dan ketidakpastian politik di sejumlah negara Eropa. Di sisi lain, tingginya biaya hidup masih menjadi perhatian masyarakat, terutama akibat kenaikan harga makanan, energi, dan kebutuhan rumah tangga dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perlambatan tingkat inflasi belum sepenuhnya menghilangkan tekanan daya beli masyarakat, sehingga berpotensi membatasi pemulihan konsumsi domestik dan aktivitas ekonomi kawasan.
Ketegangan geopolitik Timur Tengah menjadi faktor tambahan yang membayangi prospek euro setelah harga minyak Brent meningkat hingga sekitar US$110 per barel. Sebagai kawasan yang bergantung pada impor energi, Eropa menghadapi risiko kenaikan biaya produksi dan transportasi apabila harga minyak terus bertahan tinggi. Situasi ini berpotensi memicu tekanan inflasi baru sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi, sehingga menempatkan ECB pada posisi yang sulit dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Pasar saat ini memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 2,50% pada pertemuan mendatang.
Ke depan, investor akan mencermati keputusan Federal Reserve pada 27–28 Oktober serta kebijakan ECB untuk menilai perbedaan arah suku bunga antara Amerika Serikat dan kawasan euro. Apabila The Fed mempertahankan sikap moneter yang lebih ketat dibandingkan ECB, dolar AS berpotensi memperoleh dukungan sehingga membatasi penguatan euro. Sebaliknya, jika ECB memberikan sinyal pengetatan kebijakan yang lebih agresif atau tekanan terhadap dolar meningkat, euro berpeluang mendapatkan momentum pemulihan. Dengan kondisi tersebut, pergerakan EUR/USD diperkirakan masih berfluktuasi menjelang keputusan kedua bank sentral.(CP)