Solid Gold Berjangka - Harga minyak dunia melemah untuk hari keempat berturut-turut pada perdaganAgan Kamis (5/11). Brent diperdagangkan di sekitar US$94,16 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$87,92 per barel, seiring pasar menilai risiko eskalasi konflik AS-Israel dengan Iran mulai berkurang.
Tekanan terhadap minyak muncul setelah Partai Republik Presiden Donald Trump mengalami kekalahan dalam pemilu Kongres AS. Kongres yang dikuasai Demokrat dinilai dapat membatasi ruang Trump dalam mengambil langkah militer, sehingga meningkatkan peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Ekspektasi meredanya perang juga membuka peluang pulihnya pasokan minyak dari Timur Tengah. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan telah mendekati kondisi sebelum perang, meskipun biaya pengiriman masih relatif tinggi.
JPMorgan memperkirakan pasar minyak global kembali mengalami surplus sekitar 1,1 juta barel per hari pada September dan melebar menjadi 1,4 juta barel per hari pada Oktober. Pulihnya pasokan dari kawasan Teluk menjadi salah satu faktor yang menambah tekanan terhadap harga minyak.
Meski demikian, ketidakpastian geopolitik masih tinggi. Citi menilai Gedung Putih tetap memiliki kewenangan besar dalam kebijakan luar negeri, sehingga risiko peningkatan konflik dengan Iran belum sepenuhnya hilang. Eurasia Group juga memperkirakan peluang serangan baru AS terhadap Iran masih berada di kisaran 60%.
Di sisi lain, persediaan minyak komersial di negara-negara konsumen utama masih berada di level rendah. Data EIA juga menunjukkan persediaan minyak mentah, bensin, dan distilat AS menurun pada pekan lalu, sementara permintaan mencapai level tertinggi dalam setahun. Kondisi ini berpotensi membatasi penurunan harga minyak lebih lanjut. (srh)