Solid Gold Berjangka - Harga minyak mentah bergerak melemah pada perdagangan Selasa (20/10), dengan Brent berada di US$109,19 per barel dan WTI di US$99,90 per barel. Pelemahan terjadi ketika investor menimbang meningkatnya konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur dengan tanda-tanda bahwa arus minyak dari kawasan Teluk mulai kembali pulih.
Menteri Energi AS Chris Wright menyebut pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia telah pulih hingga sekitar 80% dari tingkat sebelum perang. Namun, distribusi produk olahan masih terbatas. Pemerintah AS juga mengizinkan penjualan sejumlah kapal tanker yang sebelumnya terkena sanksi agar dapat kembali mengangkut minyak secara legal.
Di sisi lain, gangguan risiko pasokan masih membayangi pasar. Iran terus menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz, sementara otoritas maritim melaporkan sejumlah serangan terhadap kapal komersial. Ketegangan juga meningkat antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Konflik Rusia-Ukraina juga menjadi perhatian setelah kedua pihak kembali melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi. Jika serangan terus menyasar fasilitas produksi dan distribusi, risiko gangguan pasokan global dapat kembali meningkat dan memberikan tekanan naik terhadap harga minyak.
Analisis Newsmaker: Harga minyak saat ini berada di tengah tarik-menarik antara risiko geopolitik dan pemulihan arus pasokan. Pulihnya pengiriman dari Teluk dapat meredakan kekhawatiran pasokan dan menahan kenaikan harga. Namun, selama Selat Hormuz masih menghadapi ancaman dan konflik di Timur Tengah maupun Rusia-Ukraina terus berlanjut, premi risiko geopolitik tetap menjadi penopang utama harga minyak. (srh)