Indeks Nikkei 225 Jepang kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (20/10/2026), dengan pelemahan mencapai 1,21% atau 787,60 poin ke level 64.129,10 pada perdagangan pagi. Penurunan tersebut memperpanjang tekanan di pasar saham Jepang setelah indeks sebelumnya ditutup melemah 0,62% pada Senin. Sentimen negatif terutama dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap prospek investasi kecerdasan buatan (AI), serta tingginya imbal hasil obligasi global yang membebani valuasi saham.
Tekanan jual terlihat pada sejumlah saham teknologi dan perusahaan yang memiliki eksposur terhadap perkembangan AI. Saham Fujikura dan SoftBank Group menjadi bagian dari emiten yang mengalami pelemahan, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap keberlanjutan pertumbuhan sektor teknologi. Kekhawatiran mengenai besarnya investasi AI dan potensi risiko pembiayaan membuat pelaku pasar mulai mengevaluasi kembali valuasi perusahaan yang sebelumnya menikmati reli signifikan.
Selain faktor teknologi, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara turut memperburuk sentimen pasar. Ketidakpastian fiskal Eropa, khususnya Prancis yang menghadapi gejolak politik dan demonstrasi, meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar obligasi global. Kondisi tersebut membuat investor lebih selektif dalam menempatkan dana pada aset berisiko, termasuk saham Jepang, sementara perhatian pasar tetap tertuju pada arah kebijakan moneter bank sentral utama.
Ke depan, pergerakan Nikkei diperkirakan masih menghadapi volatilitas seiring perubahan sentimen terhadap saham teknologi, arah imbal hasil obligasi, dan perkembangan nilai tukar yen. Pelemahan pasar saham dapat memperbesar kecenderungan investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Namun, peluang pemulihan tetap terbuka apabila tekanan imbal hasil obligasi mereda dan saham teknologi kembali mendapatkan dukungan pembelian.(CP)