Solid Gold Berjangka – Harga minyak dunia bergerak menguat pada perdagangan Selasa (3/11) setelah muncul laporan mengenai serangan Amerika Serikat terhadap Pulau Qeshm di Iran, yang kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap eskalasi konflik dan gangguan pasokan energi Timur Tengah. Brent diperdagangkan di sekitar US$105,08 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$97,87 per barel.
Penguatan terjadi setelah kedua acuan minyak tersebut anjlok lebih dari 7% pada Senin. Pelemahan sebelumnya dipicu meningkatnya optimisme bahwa pembicaraan antara pejabat Iran dan mediator Qatar dapat membuka jalan menuju penyelesaian konflik antara AS–Israel dan Iran.
Laporan mengenai serangan di Pulau Qeshm kembali menambahkan premi risiko ke harga minyak. Sejumlah pejabat AS yang dikutip media menyebut tindakan tersebut bersifat defensif dan bertujuan membatasi kemampuan Iran mengancam kapal komersial di Selat Hormuz. Meski demikian, kenaikan harga masih terbatas karena pasar menilai sebagian besar risiko geopolitik telah tercermin dalam harga minyak.
Di sisi diplomasi, Iran mengatakan komunikasi dengan Amerika Serikat masih berlangsung setelah beberapa hari negosiasi melalui mediator Qatar belum menghasilkan terobosan. Presiden AS Donald Trump juga memberikan sinyal bahwa kesepakatan dengan Teheran masih mungkin tercapai, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pemerintah telah memperoleh kewenangan tertentu untuk melanjutkan pembicaraan damai.
Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama pasar karena konflik yang berlangsung sejak akhir Februari telah mengurangi lalu lintas kapal secara signifikan. Jalur tersebut sebelumnya membawa sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam dunia, sehingga setiap gangguan baru berpotensi memberikan dampak besar terhadap pasokan energi dan harga global.
Dalam jangka pendek, arah minyak akan sangat bergantung pada perkembangan konflik serta kemajuan diplomasi AS–Iran. Serangan lanjutan atau gangguan nyata terhadap pasokan dapat kembali mengangkat premi geopolitik, sementara kemajuan negosiasi berpotensi menekan harga. Pasar juga mencermati perkembangan geopolitik lain setelah AS berencana mempertemukan delegasi Rusia dan Ukraina di Abu Dhabi pada 10–11 November untuk membahas deeskalasi konflik. (srh)