Harga minyak dunia mulai stabil pada perdagangan Selasa (3/11/2026), setelah mengalami penurunan tajam lebih dari 7% pada sesi sebelumnya. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$96,32 per barel, sementara Brent ditutup pada US$104,77 per barel. Penurunan ini dipicu meningkatnya harapan pasar terhadap peluang perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Sentimen positif muncul setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pemerintahnya mendapat kewenangan lebih besar untuk melakukan negosiasi dengan AS. Di sisi lain, Presiden Donald Trump juga memberikan sinyal adanya kemajuan diplomasi dan mengindikasikan tidak akan langsung melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilu sela AS pada Selasa.
Penurunan harga minyak juga terjadi di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap Trump menjelang pemilu. Lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah selama sembilan bulan terakhir telah membebani masyarakat AS. Harapan meredanya konflik turut menekan pasar energi lainnya, dengan harga gas alam Eropa turun hampir 9% dan minyak pemanas AS mencatat penurunan terdalam dalam enam bulan.
Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan damai masih belum pasti. Iran menuntut pencabutan blokade pelabuhan, pelonggaran sanksi, serta pembebasan aset yang dibekukan sebelum sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz. Sementara itu, AS tetap meminta Iran memberikan konsesi terkait program nuklirnya. Perbedaan tuntutan tersebut menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi.
Newsmaker mencatat, penurunan tajam harga minyak mencerminkan optimisme pasar terhadap jalur diplomasi, tetapi bukan berarti risiko konflik telah berakhir. Jika perundingan menunjukkan kemajuan, harga minyak berpotensi kembali tertekan karena kekhawatiran gangguan pasokan mereda. Sebaliknya, kegagalan negosiasi atau munculnya serangan baru dapat memicu lonjakan harga minyak, mengingat ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih sangat tinggi.