Indeks Dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (22/10/2026), memperpanjang pelemahan selama tiga hari berturut-turut seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, bergerak di sekitar level 101,50 pada sesi Eropa. Berdasarkan CME FedWatch Tool yang dikutip dalam laporan pasar, pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 84% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada 27–28 Oktober, sementara peluang kenaikan suku bunga pada Desember masih berada di kisaran 90%. Ketidakpastian arah kebijakan moneter tersebut membuat investor cenderung berhati-hati terhadap dolar AS.
Tekanan terhadap dolar semakin meningkat setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda perlambatan, terutama dari sektor perumahan. Pembangunan rumah baru pada September turun 5,2% menjadi sekitar 1,22 juta unit secara tahunan, sementara penjualan rumah tertunda merosot ke level terendah sepanjang sejarah. Kondisi ini mencerminkan melemahnya permintaan properti akibat tingginya biaya pembiayaan dan suku bunga kredit. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa The Fed perlu mempertimbangkan risiko perlambatan ekonomi sebelum melanjutkan pengetatan moneter. Namun, Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya belum memberikan petunjuk tegas mengenai waktu maupun kebutuhan kenaikan suku bunga berikutnya, sehingga arah kebijakan masih menjadi perhatian pasar.
Di sisi lain, pelemahan dolar AS berpotensi tertahan oleh meningkatnya kembali harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah. Serangan drone terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco yang dilaporkan menewaskan dua orang meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global. Sementara itu, serangan Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia turut menambah risiko gangguan distribusi energi. Lonjakan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi AS dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Investor kini mencermati pergerakan harga minyak, data ketenagakerjaan, serta indikator aktivitas bisnis AS untuk menentukan arah dolar menjelang keputusan kebijakan moneter pekan depan.
Point of View Solidnews
Pelemahan indeks dolar AS menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi mulai memberikan tekanan pada greenback, meskipun risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak masih tinggi.
Kondisi tersebut menempatkan The Fed dalam dilema. Di satu sisi, melemahnya sektor perumahan menunjukkan bahwa tingginya suku bunga mulai membebani aktivitas ekonomi. Namun, di sisi lain, kenaikan harga energi berpotensi mempertahankan inflasi di atas target bank sentral dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan.
Dari sisi teknikal, area 101,50 menjadi support penting bagi indeks dolar AS. Jika DXY menembus level tersebut secara konsisten, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju 101,00. Sebaliknya, pemulihan di atas 101,80 dapat membuka peluang penguatan menuju resistance psikologis 102,00–102,30. Level tersebut merupakan skenario pemantauan, bukan kepastian target harga.
Kesimpulan Newsmaker: Dolar AS masih menghadapi tekanan bearish jangka pendek akibat meningkatnya ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober. Namun, lonjakan harga minyak dan risiko inflasi dapat menjadi penopang dolar menjelang akhir tahun. Bagi emas, pelemahan dolar berpotensi membuka peluang penguatan, tetapi kenaikan yield Treasury dan ekspektasi suku bunga tinggi tetap menjadi risiko yang dapat membatasi pemulihan harga.