Harga emas bergerak melemah pada Rabu (28/10) karena kenaikan harga minyak kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi, sementara investor menunggu keputusan kebijakan The Fed dan komentar Ketua Kevin Warsh. Harga emas spot turun 0,3% ke sekitar US$4.044 per troy ounce.
The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4%. Namun, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 84%, sehingga perhatian utama tertuju pada apakah Warsh akan memberikan sinyal hawkish mengenai kebijakan berikutnya.
Tekanan terhadap emas semakin besar setelah harga minyak naik lebih dari 1% akibat serangan terhadap kilang di Arab Saudi. Kenaikan harga energi berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Investor juga menantikan data PCE AS pada Kamis sebagai indikator inflasi utama The Fed. Data tersebut dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai arah suku bunga, terutama jika tekanan harga kembali menunjukkan penguatan.
Dari sisi fundamental, suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Proyeksi harga logam mulia 2026 juga kembali dipangkas karena permintaan yang lebih lemah, imbal hasil Treasury yang tinggi, dan dolar AS yang kuat, meski pemulihan masih diperkirakan terjadi pada 2027.
Di sisi lain, permintaan emas dari China memberikan sedikit dukungan. Impor bersih emas China melalui Hong Kong pada September meningkat lebih dari 28% dibandingkan Agustus dan mencapai level tertinggi dalam lima bulan, didorong restocking serta permintaan investor.