Euro kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Asia, Selasa (3/11/2026), dengan pasangan EUR/USD bergerak di bawah level 1,1200. Pelemahan ini terjadi setelah euro gagal mempertahankan penguatan sebelumnya di kisaran 1,1235, yang merupakan level tertinggi dalam satu setengah pekan. Penguatan dolar AS serta sikap hati-hati investor menjelang pemilu sela AS menjadi faktor utama yang membatasi pergerakan mata uang Eropa tersebut.
Dolar AS mendapat dukungan dari data ekonomi yang menunjukkan aktivitas manufaktur masih kuat. Indeks ISM Manufacturing PMI AS meningkat menjadi 55,5 pada Oktober dari 54,5 pada bulan sebelumnya, menandai ekspansi selama sepuluh bulan berturut-turut. Kondisi ini memperkuat keyakinan pasar terhadap ketahanan ekonomi AS. Selain itu, investor memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Desember mencapai lebih dari 70%, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi dolar.
Dari Eropa, meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi utang pemerintah Prancis dan kebuntuan politik turut menekan euro. Ketidakpastian mengenai kemampuan pemerintah mengendalikan defisit anggaran membuat investor lebih berhati-hati terhadap prospek ekonomi kawasan. Sementara itu, perkembangan diplomasi AS-Iran memberikan sedikit harapan bagi stabilitas pasar global setelah Presiden Donald Trump menyebut peluang tercapainya kesepakatan damai. Namun, perundingan melalui mediator Qatar masih belum menghasilkan terobosan besar sehingga risiko geopolitik tetap membayangi.
Perhatian pasar kini tertuju pada hasil pemilu sela AS yang berpotensi memicu volatilitas dolar dan pasar obligasi. Investor juga menantikan sejumlah indikator ekonomi penting, termasuk laporan lowongan pekerjaan JOLTS AS, inflasi awal Zona Euro, serta ISM Services PMI. Puncak perhatian akan mengarah pada laporan Non-Farm Payrolls (NFP) AS pada Jumat, yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Newsmaker mencatat, tekanan terhadap euro masih didominasi oleh kekuatan dolar AS dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap tinggi, EUR/USD berpotensi kesulitan kembali menguat di atas 1,1200. Namun, apabila data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan atau risiko inflasi mereda akibat penurunan harga energi, dolar berpeluang kehilangan momentum sehingga memberikan ruang pemulihan bagi euro.