Poundsterling dan euro menguat pada perdagangan Jumat (16/10) seiring tekanan terhadap dolar AS meningkat di tengah kekhawatiran investor terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) di AS. Sterling naik 0,43% ke US$1,3331, sementara euro menguat 0,29% ke US$1,1253. Pound juga berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 0,7%, sekaligus berpotensi mengakhiri tren pelemahan selama tujuh pekan berturut-turut.
Pergerakan dolar turut dipengaruhi oleh pemulihan pasar Treasury AS tenor panjang. Investor dinilai mulai menggunakan obligasi pemerintah AS sebagai lindung nilai terhadap potensi koreksi pada saham AI. Namun, tekanan pada dolar masih tertahan karena data PPI AS yang dirilis Kamis menunjukkan tekanan harga jauh lebih tinggi dari perkiraan, sementara data harga impor yang akan dirilis Jumat diperkirakan masih menunjukkan kenaikan tinggi.
Kondisi tersebut membuat yield tenor pendek AS tetap kuat dan mempersempit selisih yield pada kurva Treasury 2-10 tahun. ING menilai The Fed masih berada dalam posisi mengetatkan kebijakan untuk meredam tekanan inflasi. Karena itu, pelemahan dolar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh pergerakan pasar obligasi dan saham teknologi dibandingkan perubahan fundamental ekonomi Inggris.
Dari sisi domestik, pound mendapatkan dukungan setelah ekonomi Inggris tumbuh 0,1% pada Agustus, mengalahkan ekspektasi kontraksi. Pertumbuhan tersebut turut didorong oleh peningkatan aktivitas pemrograman komputer yang memberikan indikasi bahwa perkembangan AI mulai memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Inggris.
Namun, prospek fiskal Inggris tetap menjadi risiko bagi sterling. Rencana kenaikan pajak terhadap sektor perbankan menjelang anggaran 28 Oktober menjadi perhatian pasar, sementara kenaikan yield obligasi pemerintah Inggris dapat mengurangi ruang fiskal pemerintah. Kondisi tersebut berpotensi membatasi penguatan pound jika biaya pembiayaan terus meningkat.