Harga minyak mentah melemah pada perdagangan Jumat (16/10), tetapi masih berada di jalur kenaikan mingguan. Brent turun 0,74% ke US$105,14 per barel, sementara WTI melemah 1% ke US$96,98 per barel. Penurunan terjadi setelah Badan Energi Internasional (IEA) berkomitmen melepas sisa cadangan minyak darurat dan adanya potensi pelonggaran sanksi AS terhadap sejumlah kapal shadow fleet.
Meski demikian, tekanan penurunan harga masih terbatas karena risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah tetap tinggi. Serangan di sekitar Selat Hormuz meningkat dalam 10 hari terakhir, sementara Iran menyatakan akan meningkatkan serangan sebagai respons terhadap blokade AS terhadap pelabuhannya dan sanksi yang lebih ketat.
IEA sebelumnya menyepakati pelepasan lebih dari 20 juta barel diesel ke pasar. Langkah tersebut langsung menekan margin penyulingan diesel Eropa hampir 2% menjadi US$78,67 per barel pada Jumat. Namun, Saxo Bank menilai pelepasan cadangan tersebut kemungkinan belum cukup untuk mengatasi ketatnya pasokan diesel.
Dari sisi pasokan minyak mentah, penurunan persediaan AS yang lebih besar dari perkiraan masih menjadi faktor pendukung. WTI sebelumnya melonjak lebih dari 3% pada Kamis setelah data menunjukkan penurunan besar stok minyak mentah AS akibat gangguan produksi terkait badai.
Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah terus menjadi perhatian pasar. Kelompok Houthi melancarkan serangan rudal ke kompleks istana presiden di Aden yang menewaskan dua penjaga, sementara koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan puluhan serangan terhadap infrastruktur Saudi. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran aliran minyak melalui kawasan tersebut.