Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Asia, Jumat (6/11/2026), setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi global. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,7% menjadi US$91,14 per barel, melanjutkan pemulihan setelah menguat 2,7% pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, minyak Brent mencatat kenaikan hampir 4% pada Kamis. Meski mengalami pemulihan, kedua acuan minyak tersebut masih berada di jalur penurunan mingguan yang tajam, dengan Brent diperkirakan melemah lebih dari 15% dan WTI sekitar 12%.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya risiko keamanan jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah, terutama Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sedikitnya lima insiden yang melibatkan kapal sejak Minggu. Garda Revolusi Iran juga menyatakan bahwa dua kapal tanker minyak dan sebuah kapal tunda terbakar dalam insiden terpisah setelah mencoba melintasi jalur yang tidak mendapat izin. Di sisi lain, Arab Saudi memperingatkan potensi ancaman keamanan di sekitar Yanbu, pusat ekspor minyak di Laut Merah, seiring berlanjutnya serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran.
Sebelumnya, harga minyak sempat mengalami kejatuhan lebih dari 8% pada Rabu hingga mencapai level penutupan terendah sejak 31 Agustus. Penurunan tersebut terjadi setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat meningkatkan harapan bahwa tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump dapat mempercepat upaya penghentian perang AS-Israel dengan Iran. Namun, optimisme tersebut mulai berkurang karena perubahan keseimbangan politik di Washington belum menjamin tercapainya kesepakatan damai ataupun pemulihan distribusi minyak melalui Selat Hormuz. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi.
Upaya diplomasi di kawasan Timur Tengah masih berlangsung di tengah meningkatnya ancaman terhadap pengiriman minyak. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dilaporkan melakukan pembicaraan melalui telepon dengan mitranya dari Arab Saudi dan Qatar mengenai perkembangan diplomasi serta stabilitas kawasan. Sementara itu, risiko pasokan juga muncul dari konflik Rusia-Ukraina setelah Ukraina kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia. Kilang Ryazan, salah satu kilang terbesar di negara tersebut, dilaporkan menjadi sasaran serangan pesawat nirawak pada malam hari. Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan produksi dan distribusi energi di pasar internasional.
Solidnews mencatat, kenaikan harga minyak mencerminkan bahwa risiko gangguan pasokan masih menjadi perhatian utama investor, meskipun harapan penyelesaian konflik Timur Tengah sempat memicu penurunan harga yang tajam. Serangan terhadap kapal tanker, ancaman terhadap jalur distribusi Selat Hormuz, serta gangguan fasilitas energi Rusia berpotensi menjaga volatilitas harga minyak dalam jangka pendek. Jika serangan terus berlanjut dan jalur pengiriman minyak semakin terganggu, harga Brent dan WTI berpeluang kembali menguat. Sebaliknya, kemajuan diplomasi antara AS dan Iran yang disertai pemulihan distribusi energi dapat mengurangi kekhawatiran pasokan dan kembali menekan harga minyak dunia.