Amerika Serikat dan Israel dilaporkan tengah mempersiapkan kemungkinan serangan militer baru terhadap Iran setelah pelaksanaan pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November 2026. Rencana tersebut mencakup sejumlah sasaran strategis, termasuk fasilitas energi, instalasi nuklir, serta persenjataan rudal dan drone milik Iran. Persiapan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah yang dapat mengguncang stabilitas geopolitik dan pasar energi global.
Persiapan militer kedua negara dikabarkan semakin intensif melalui latihan operasi udara di wilayah Irak untuk menguji kemampuan serangan terhadap target-target strategis. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga telah melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu guna membahas kemungkinan operasi militer lanjutan. Salah satu skenario yang dipertimbangkan adalah serangan intensif selama tiga hari untuk memberikan tekanan ekonomi dan militer kepada Iran agar kembali ke meja perundingan mengenai program nuklirnya.
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump hingga kini belum memberikan persetujuan akhir terhadap rencana serangan tersebut. Washington masih membuka jalur diplomasi terkait program nuklir Iran dan pengendalian Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi dunia. Di sisi lain, Iran memperingatkan bahwa serangan baru dapat memicu tindakan balasan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, pusat data, hingga jaringan kabel internet bawah laut. Ancaman tersebut meningkatkan risiko meluasnya konflik ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah.
Ketidakpastian ini berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan global, terutama harga minyak mentah, emas, dan dolar AS. Serangan terhadap fasilitas energi Iran maupun infrastruktur minyak negara-negara Teluk dapat memperburuk gangguan pasokan dan mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut berisiko memperbesar tekanan inflasi global sekaligus mempersulit langkah bank sentral dalam melonggarkan kebijakan moneter. Investor diperkirakan akan terus mencermati perkembangan diplomasi serta keputusan Washington setelah pemilu sela AS untuk menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya..(CP)