Bank of Japan (BOJ) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan jangka pendek (overnight call rate) pada level 1,25% dalam pertemuan kebijakan moneter Jumat (30/10/2026). Keputusan tersebut sesuai dengan perkiraan pasar dan diambil melalui pemungutan suara 8 berbanding 1. Meski tidak melakukan kenaikan bunga, bank sentral Jepang tetap memberikan sinyal bahwa pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut masih memungkinkan, seiring tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Dalam pertemuan tersebut, anggota dewan BOJ Hajime Takata mengusulkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,50%, tetapi usulan tersebut tidak memperoleh dukungan mayoritas. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa sebagian pembuat kebijakan menilai langkah pengetatan tambahan diperlukan untuk menjaga stabilitas harga. BOJ juga menaikkan proyeksi inflasi dan menyatakan bahwa inflasi mendasar Jepang telah mencapai kisaran target 2%, sehingga peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya tetap terbuka.
Di sisi lain, keputusan mempertahankan bunga mencerminkan kehati-hatian BOJ dalam menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga energi akibat ketegangan Timur Tengah, pelemahan yen, serta ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan utama. BOJ perlu memastikan bahwa kenaikan biaya pinjaman tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap konsumsi rumah tangga dan aktivitas dunia usaha. Karena itu, arah kebijakan berikutnya akan bergantung pada perkembangan harga, pertumbuhan ekonomi, serta kondisi pasar keuangan Jepang.
Perhatian investor akan tertuju pada konferensi pers Gubernur BOJ Kazuo Ueda serta peluang kenaikan suku bunga pada Desember. Jika BOJ memperkuat sinyal pengetatan, yen berpotensi menguat terhadap dolar AS, sementara pasar saham Jepang dapat menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya pembiayaan. Sebaliknya, jika BOJ menekankan perlunya mempertahankan bunga lebih lama, yen berisiko kembali melemah. Dalam pandangan kami, keputusan BOJ kali ini merupakan langkah menunggu yang tetap disertai kecenderungan hawkish, sehingga arah yen berikutnya lebih ditentukan oleh sinyal kenaikan bunga daripada keputusan mempertahankan suku bunga itu sendiri.