Harga emas kembali menguat pada perdagangan Kamis dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua pekan. Spot gold naik 1% menjadi US$4.100,27 per ounce, setelah sempat menyentuh US$4.146,63, level tertinggi sejak 20 Oktober. Penguatan ini melanjutkan lonjakan hampir 3,4% pada sesi sebelumnya.
Kenaikan emas didukung oleh pelemahan dolar AS dan yield Treasury. Indeks dolar bergerak di sekitar level terendah sejak 30 September, sementara yield Treasury AS bertenor 10 tahun berada di level terendah dalam hampir dua bulan. Kondisi tersebut membuat emas lebih menarik karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih rendah.
Harga minyak yang tetap berada di bawah US$100 per barel juga memberikan dukungan tambahan. Brent sebelumnya anjlok hampir 9% setelah pasar melihat peluang lebih besar bagi penurunan eskalasi konflik Iran. Pelemahan harga energi berpotensi meredakan tekanan inflasi dan mengurangi kebutuhan The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu lama.
Meski demikian, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed belum sepenuhnya hilang. Berdasarkan CME FedWatch, pasar masih melihat peluang sekitar 66% untuk kenaikan suku bunga pada Desember. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menjadi tekanan bagi emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Perhatian investor kini beralih ke laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang akan dirilis Jumat. Data tersebut menjadi penting karena dapat memberikan petunjuk baru mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter The Fed. Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan menekan emas.
Sebaliknya, jika NFP menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar dapat kembali meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi emas untuk mempertahankan momentum penguatannya, terutama jika dolar dan yield Treasury kembali melemah.
Analisis Newsmaker: emas saat ini mendapat dukungan dari kombinasi dolar yang melemah, yield Treasury yang turun, serta meredanya tekanan harga energi. Namun, NFP menjadi katalis penting berikutnya. Data yang kuat dapat memicu tekanan terhadap emas, sementara data yang lemah berpotensi memperpanjang reli.
Sumber: Newsmaker.id