Indeks Dolar AS (DXY) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Asia, Rabu (4/11/2026), hingga menembus level 101,50 dan bergerak di sekitar 101,25. Pelemahan ini terjadi setelah hasil awal pemilu sela Amerika Serikat (AS) menunjukkan sejumlah kemenangan Partai Demokrat. Ketidakpastian mengenai komposisi Kongres untuk dua tahun terakhir masa jabatan Presiden Donald Trump mendorong investor menyesuaikan posisi di pasar valuta asing, sehingga memberikan tekanan terhadap dolar AS.
Berdasarkan hasil penghitungan awal yang dilaporkan Associated Press (AP), sebanyak 60 dari 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat AS telah diproyeksikan pemenangnya. Dari jumlah tersebut, Partai Demokrat memperoleh 42 kursi, sementara Partai Republik mengamankan 18 kursi. Meski demikian, hasil tersebut belum menggambarkan keseluruhan persaingan karena sebagian besar kursi masih dalam proses penghitungan. Komposisi akhir Kongres akan menjadi perhatian utama investor dalam memperkirakan arah kebijakan ekonomi pemerintahan Trump.
Di tingkat Senat, Partai Demokrat mencatat kemenangan penting setelah Senator Jon Ossoff berhasil mempertahankan kursinya di negara bagian Georgia untuk masa jabatan kedua. Ossoff mengalahkan Mike Collins, kandidat Partai Republik yang mendapat dukungan Trump. Kemenangan tersebut menjadi perkembangan penting bagi Demokrat dalam upaya mengambil alih kendali Senat. Namun, persaingan masih berlangsung dan hasil akhir pemilu belum dapat dipastikan.
Dari sisi ekonomi, perubahan kendali Kongres berpotensi memengaruhi kebijakan fiskal AS, termasuk perpajakan, belanja pemerintah, dan pengelolaan defisit anggaran. Apabila Partai Demokrat berhasil menguasai salah satu atau kedua kamar Kongres, sejumlah agenda ekonomi Trump berpotensi menghadapi hambatan politik yang lebih besar. Kondisi tersebut dapat mengubah ekspektasi investor terhadap pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Penurunan ekspektasi terhadap ekspansi fiskal dapat memberikan tekanan pada dolar, meskipun arah pergerakannya tetap bergantung pada kondisi ekonomi dan kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Solidnews mencatat, pelemahan dolar mencerminkan respons awal investor terhadap meningkatnya ketidakpastian politik dan potensi perubahan keseimbangan kekuasaan di Washington. Jika hasil akhir pemilu memperkuat ekspektasi perubahan kebijakan fiskal dan mendorong penurunan imbal hasil obligasi AS, dolar berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, apabila hasil pemilu berbeda dari perkiraan atau data ekonomi AS kembali menunjukkan kekuatan, dolar masih memiliki peluang untuk pulih. Pelemahan dolar juga dapat memberikan dukungan bagi emas dan mata uang utama lainnya, sementara pasar menantikan kepastian hasil pemilu serta laporan tenaga kerja AS pada Jumat.