Euro menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Asia, Rabu (4/11/2026), dengan pasangan EUR/USD bergerak di sekitar level 1,1240 dan mendekati area psikologis 1,1250. Penguatan mata uang Eropa tersebut didukung oleh pelemahan dolar AS di tengah ketidakpastian hasil pemilu sela Amerika Serikat. Investor cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan menjelang kepastian komposisi Kongres AS, sementara perhatian pasar juga tertuju pada sejumlah data ekonomi penting yang dijadwalkan dirilis pekan ini.
Pemilu sela AS menjadi perhatian utama karena hasilnya berpotensi memengaruhi arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Donald Trump. Berdasarkan proyeksi awal media AS, Partai Demokrat berhasil mempertahankan sejumlah kursi Senat, termasuk kemenangan Senator Jon Ossoff di Georgia. Namun, persaingan untuk menguasai Kongres masih berlangsung, dengan Partai Demokrat membutuhkan tambahan bersih empat kursi untuk mengambil alih kendali Senat. Ketidakpastian tersebut membuat investor mempertimbangkan kemungkinan perubahan kebijakan fiskal, perpajakan, dan pengeluaran pemerintah yang dapat memengaruhi pergerakan dolar AS.
Dari kawasan Eropa, penguatan euro juga mendapat dukungan dari pernyataan pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) yang mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember. Anggota Dewan Gubernur ECB, Joachim Nagel, menyatakan bahwa memburuknya prospek inflasi membuat pengetatan kebijakan moneter tambahan semakin diperlukan. Pernyataan tersebut muncul setelah ECB mempertahankan suku bunga pada pertemuan sebelumnya, menyusul dua kali kenaikan sejak dimulainya konflik Iran. Sikap yang cenderung hawkish ini meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga kawasan euro masih berpotensi naik untuk mengendalikan tekanan harga.
Tekanan inflasi di kawasan euro masih menjadi perhatian karena tingginya biaya energi akibat konflik Timur Tengah berpotensi meningkatkan harga barang dan jasa. Sejumlah pejabat ECB menilai bahwa kenaikan harga energi dapat merambat ke biaya produksi dan tuntutan kenaikan upah, sehingga membuat inflasi semakin sulit dikendalikan. Para ekonom memperkirakan ECB akan kembali menaikkan suku bunga pada Desember, sementara pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan pengetatan berlanjut hingga 2027. Di sisi lain, investor juga menantikan laporan tenaga kerja AS yang dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan ekonomi dan prospek kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Solidnews mencatat, penguatan euro mencerminkan kombinasi pelemahan dolar akibat ketidakpastian politik AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga ECB. Jika ECB mempertahankan sikap tegas terhadap inflasi, EUR/USD berpotensi melanjutkan penguatan menuju level 1,1250 dan menguji area yang lebih tinggi. Namun, kenaikan tersebut masih menghadapi risiko apabila data tenaga kerja AS menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, sehingga kembali mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Dengan demikian, arah pergerakan euro dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada perkembangan hasil pemilu AS, kebijakan moneter kedua bank sentral, serta rilis data ekonomi berikutnya.