Indeks Hang Seng Hong Kong kembali melemah pada perdagangan Jumat (6/11/2026), turun 0,7% atau sekitar 181 poin ke level 24.612. Penurunan tersebut terjadi setelah indeks mencatat lonjakan 3,7% pada sesi sebelumnya, yang merupakan kenaikan harian terbesar dalam 21 bulan terakhir. Pelemahan pasar dipicu oleh aksi jual saham teknologi di Amerika Serikat (AS) yang meluas ke bursa Asia, serta aksi ambil untung investor setelah penguatan tajam pada perdagangan Kamis.
Tekanan terhadap pasar saham Hong Kong meningkat setelah indeks Nasdaq di Wall Street anjlok 5,5%, sementara Philadelphia Semiconductor Index merosot 12,2%. Kejatuhan tersebut menghapus nilai kapitalisasi pasar saham AS hingga triliunan dolar dan meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek industri kecerdasan buatan (AI). Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan belanja besar perusahaan teknologi untuk pembangunan pusat data dan infrastruktur semikonduktor. Selain itu, meningkatnya kemungkinan pengawasan regulasi terhadap industri AI di AS turut memperburuk sentimen, sehingga mendorong investor mengurangi kepemilikan saham teknologi di kawasan Asia.
Kekhawatiran terhadap rantai pasok teknologi China semakin meningkat setelah muncul laporan bahwa sekitar 600.000 chip Nvidia H200 tertahan di Hong Kong sambil menunggu persetujuan pemerintah Beijing untuk dikirim ke China daratan. Kondisi tersebut menimbulkan ketidakpastian terhadap distribusi komponen penting bagi pengembangan teknologi AI. Apabila proses persetujuan mengalami penundaan berkepanjangan, aktivitas perusahaan yang bergantung pada pasokan semikonduktor canggih berpotensi menghadapi hambatan. Situasi ini memperkuat kehati-hatian investor terhadap prospek pertumbuhan industri teknologi China.
Tekanan jual terlihat pada sejumlah saham teknologi dan perusahaan yang berkaitan dengan pengembangan AI. Saham Z.AI Co. anjlok 11,8%, MiniMax merosot 9,9%, sementara Tencent melemah 1,8%. Produsen semikonduktor SMIC turun 4,5%, sedangkan Kingboard Laminates mengalami penurunan 10,1%. Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran investor tidak hanya terbatas pada perusahaan pengembang AI, tetapi juga meluas ke sektor pendukung seperti semikonduktor dan komponen elektronik. Di sisi lain, aksi ambil untung setelah reli sebelumnya turut memperbesar tekanan terhadap indeks Hang Seng.
Solidnews mencatat, pelemahan Hang Seng mencerminkan meningkatnya sensitivitas pasar saham Asia terhadap perkembangan industri AI dan pergerakan saham teknologi Amerika Serikat. Penurunan tajam indeks semikonduktor AS serta ketidakpastian distribusi chip Nvidia ke China menjadi faktor yang membebani kepercayaan investor. Meski demikian, koreksi setelah kenaikan 3,7% pada sesi sebelumnya juga dapat dipandang sebagai bagian dari penyesuaian pasar dalam jangka pendek. Jika tekanan jual saham teknologi global terus berlanjut, Hang Seng berpotensi menghadapi pelemahan tambahan. Sebaliknya, meredanya kekhawatiran regulasi AI dan membaiknya sentimen Wall Street dapat membuka peluang pemulihan indeks pada perdagangan berikutnya.